Jumat, 05 Februari 2016

PEMBENTUKAN PARAGRAF

BAB I
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Sering didengar istilah paragraph, istilah tersebut digunakan, baik dalam percakapan maupun dalam kegiatan-kegiatan pertemuan dalam rapat, diskusi, atau seminar. Bagi yang sering menulis, baik surat, kertas kerja, pelaporan, atau skripsi pasti menggunakan paragraf dalam tulisannya. Apabila ditanyakan definisi dari paragraf maka akan bervariasi jawabannya. paragraf merupakan salah satu hal yang sangat penting untuk kita pelajari, karena sangat berpengaruh dalam pembentukan sebuah tulisan yang menarik dan berkualitas.
Bila membuat paragraf, dituliskan sekelompok ide yang terdiri atas ide pokok dan ide bawahan yang merupakan penjelasan tentang ide pokok.Di samping ide pokok ini,terdapat ide pokok lainnya yang masih berkaitan dengan ide pokok pertama. Kedua ide pokok ini merupakan bagian kelompok ide yang lebih besar .Oleh sebab itu,ide pokok yang kedua ini diungkapkan dalam paragraf berikutnya yang disertai pula dengan ide pokok bawahan yang berupa penjelasan terhadap ide pokok kedua tadi. Demikianlah seterusnya sehingga dapat dibuat sebuah karangan yang terdiri atas beberapa paragraf yang mengandung kelompok-kelompok ide yang saling berkaitan.
B. Rumusan Masalah 
1.      Apa yang dimaksud dengan paragraf ?
2.      Apakah syarat-syarat pembentukan dan pengembangan paragraf ?
3.      Apa jenis-jenis paragraf?
4.       Apa saja unsur-unsur yang terkandung dalam paragraf?
5.       Apakah fungsi paragraf ?
C. Tujuan
1.      Mengetahui pengertian paragraf
2.      Mengetahui syarat-syarat dan pengembangan paragraf
3.      Mengetahui jenis-jenis paragraf
4.      Mengetahui unsur-unsur yang terkandung dalam paragraf
5.      Mengetahui fungsi paragraf


                                                      BAB II
                                       PEMBAHASAN          
A.    Pengertian Paragraf
Menurut KBBI, paragraf adalah bagian bab dalam suatu karangan(biasanya mengandung satu ide pokok dan penulisannya dimulai dengan garis baru).  Paragraf juga didefinisikan sebagai kumpulan suatu kesatuan pikiran yang lebih tinggi dan lebih luas daripada kalimat. Paragraf  merupakan penuangan ide dalam bentuk kumpulan kalimat yang saling berhubungan antara kalimat yang satu dengan yang lainnya dan hanya memiliki satu topik atau tema.

B.     Syarat-syarat Pembentukan dan Pengembangan Paragraf
Syarat-syarat pembentukan paragraf yaitu;
1.      Kesatuan (kohesi)
Kesatuan paragraf ialah semua kalimat yang membangun paragraf secara bersama-sama menyatakan suatu hal atau suatu tema tertentu. Kesatuan di sini tidak boleh diartikan bahwa paragraf itu memuat satu hal saja. Melainkan, kesatuan yang dimaksud adalah kalimat-kalimat dalam paragraf harus menggambarkan pikiran yang saling berhubungan dan menunjukkan ikatan untuk mendukung satu pikiran sebagai pikiran utama atau suatu ide tunggal (Keraf, 1980:36). Kesatuan pikiran dalam paragraf berarti adanya hubungan tetang masalh menjadi pikiran utama. Jadi, tidak boleh terdapat unsur yang sama sekali tidak berhubungan dengan pikiran utama tersebut. Penyimpangan uraian akan menyulitka pembaca memahami maksud penulis.
2.      Kepaduan (koherensi)
Kepaduan (koherensi) adalah kekompakan hubungan antara suatu kalimat dan kalimat yang lain yang membentuk suatu paragraf kepaduan yang baik tetapi apabila hubungan timbal balik antar kalimat yang membangun paragraf itu baik, wajar, dan mudah dipahami. Untuk membentuk sebuah paragraf yang padu  kita harus memperhatikan masalah kebahasaan dan masalah perincian atau urutan alinea.
 a.       masalah kebahasaan
            Masalah kebahasaan yang turut memengaruhi kepaduan sebuah paragraf adalah repetisi, kata ganti, dan kata-kata transisi.
1)      repetisi (pengulangan kata kunci)
            pengulangan kata kunci, yaitu kata yang dianggap penting dalam sebuah paragraf. Kata kunci yang mula-mula timbul pada awal paragraf kemudian diulang-ulang pada kalimat berikutnya. Pengulangan itu berfungsi memelihara kepadanan  semua kalimat
contoh :
sebagai penjasmanian pikiran dan berpikir, bahasa itu merupakan alat yang baik dalam pergaulan antarmanusia. Pergaulan antarmanusia ialah pertemuan total antarmanusia satu dengan manusia yang lainnya. Dalam keseluruhannya, jasmani dan rohani bertemu dan bergaul satu sama lain. Tanp bahasa, pertemuan dan pergaulan kita dengan orang lain amat tidak sempurna.
2)      Penggunaan kata ganti
            kata ganti adalah kata-kata yang mengacu kepada manusia atau benda. Untuk menghindari kebosanan, kata-kata yang mengacu pada manusia atau benda itu diganti dengan kata ganti. Pemakaian kata ganti dalam paragraf berfungsi menjaga lepaduan antara kalimat-kalimat yang membangun paragraf. Yang biasa dipasangkan menjadi penanda hubunga paragraf ialah 1) kata ganti orang (ia/dia, beliau, mereka, -nya), 2) kata ganti milik (-nya, beliau, mereka), dan 3) kata ganti petunjuk (ini dan itu)
contoh :
Adi dan Boy merupakan dua sahabat yang akrab. Setiap hari keduanya selalu kelihatan bersama-sama. Adilah yang selalu menjemput Boy ke sekolah karena rumahnya lebih jauh letaknya dari rumah Boy. Mereka selalu siap sedia menolong kawan-kawannya yang mengalami kesulitan.
3)       Penggunaan kata transisi
                        kata transisi adalah kata atau frasa yang digunakan untuk menghubungkan kalimat yang satu dengan kalimat yang lain untuk menjadikan kepaduan paragraf. Sifat hubungan antar kalimat akan menentukan pilihan kata/frasa transisi yang dipakai dalam paragraf.
Contoh :
Jam lima pagi saya bangun. Sesudah itu, saya ke kamar mandi. Sesudah itu, saya berpakaian, setelah berpakaian, saya makan pagi. Sesudah itu, saya pamit pada Ayah dan Ibu, lalau saya berangkat ke sekolah.

Ada bermacam-macan kata atau frasa transisi yang biasa dipergunakan dalam tulisan-tulisan ilmiah, misalnya;
a.       Hubungan yang menyatakan tambahan, misalnya, lebih lagi, selanjutnya lalu, dan, disamping itu, seperti halnya, kedua, dan sebagainya.
b.      Hubungan yang menyatakan pertentangan, misalnya, tetapi, namun, bagaimanapun juga, walaupun demikian, dan sebagainya.
c.       Hubungan yang menyatakan perbandingan, misalnya, sama halnya, seperti, sebagaimana, dan sebagainya.
d.      Hubungan yang menyatakan akibat, misalnya, sebab itu, oleh sebab itu, oleh karena itu, dan sebagainya.
e.       Hubungan yang menyatakan tujuan, misalnya, untuk maksut itu, supaya, dan sebagainnya.
f.       Hubungan yang menyatakan singkatan, misalnya, singkatnya, ringkasnya, misalnya, yakni, dan sebagainya.
g.      Hubungan yang menyatakan waktu, misalnya, sementara itu, sementara, sesudah, dan sebagainya.
h.      Hubungan yang menyatakan tempat, misalnya, di sisi, di situ, di seberang, dan sebagainya.

b.      Perincian dan urutan isi paragraf
perincian dan urutan isi paragraf adalah bagaimana mengembangkan sebuah gagasan utama dan bagaimana hubungan dengan  gagasan-gagasan bawahan yang menunjang gagasan utama tadi. Gagasan utama yang terdapat dalam kalimat utama harus dikembangkan melalui kalimat-kalimat pengembang tetapi tidak boleh kluar dari gagasan utama tadi. Semua kalimat pengmbang harus mendukung terhadap gagasan utama. Selain itu, hubungan antara kalimat utama dan kalimat pengembang dan antara kalimat pengembang dan kalimat pengembang harus terjalin.

3.      Kelengkapan
Kelengkapan adalah suatu paragraf yang berisi kalimat-kalimat penjelas yang cukup untuk menunjang kalimat topik. Paragraf yang hanya ada satu kalimat topik dikatakan paragraf yang kurang lengkap. Apabila yang dikembangkan itu hanya diperlukan dengan pengulangan-pengulangan adalah paragraf yang tidak lengkap.

4.      Panjang Paragraf
Panjang paragraf dalam sebagai tulisan tidak sama, bergantung pada beberapa jauh/dalamnya suatu bahasa dan tingkat pembaca yang menjadi sasaran.
Memperhitungkar, 4 hal :
a.       Penyusunan kalimat topik,
b.      Penonjolan kalimat topik dalam paragraf,
c.       Pengembangan detail-detail penjelas yang tepat, dan
d.      Penggunaan kata-kata transisi, frase, dan alat-alat lain di dalam paragraf. 
5.      Pola Sususnan Paragraf
Rangkaian pernyataan dalam paragraf harus disusun menurut pola yang taat asas, pernyataan yang satu disusun oleh pernyatanyang lain dengan wajar dan bersetalian secara logis. Dengan cara itu pembaca diajak oleh penulis untuk memahami paragraf sebagai satu kesatuan gagasan yang bulat. Pola susunannya bermacam-macam, dan yang sering diterapkan dalam tulisan ilmiah. antara lain :
(1) pola runtunan waktu,
(2) pola uraian sebab akibat,
(3) pola perbandingan dan pertentangan,
(4) pola analogi,
(5) pola daftar, dan
(6) pola lain.
Teknik pengembangan paragraf
1.      Secara alami
Pengembangan paragraf secara alami berdasarkan urutan ruang dan waktu. Urutan ruang merupakan urutan yang akan membawa pembaca dari satu titik ke titik berikutnya dalam suatu ruang. Urutan waktu adalah urutan yang menggambarkan urutan tedadinya peristiwa, perbuatan, atau tindakan.

2.      Klimaks dan Antiklimaks
Pengembangan paragraf teknik ini berdasarkan posisi tertentu dalam suatu rangkaian berupa posisi yang tertinggi atau paling menojol. Jika posisi yang tertinggi itu diletakkan pada bagian akhir disebut klimaks. Sebaliknya, jika penulis mengawali rangkaian dengan posisi paling menonjol kemudian makin lama makin tidak menonjol disebut antiklimaks.

3.      Umum Khusus dan Khusus Umum
Dalam bentuk umum ke khusus utama diletakkan di awal paragraf, disebut paragraf deduktif. Dalam bentuk khusus-umum, gagasan utama diletakkan di akhir paragraf, disebut paragraf induktif.

C.    Jenis-jenis Paragraf
1.      Jenis paragraf berdasarkan isi
a.      Eksposisi
Berisi uraian atau penjelasan tentang suatu topik dengan tujuan memberi informasi.
 Contoh:
Para pedagang daging sapi di pasar-pasar tradisional mengeluhkan dampak pemberitaan mengenai impor daging ilegal. Sebab, hampir seminggu terakhir mereka kehilangan pembeli sampai 70 persen. Sebaliknya, permintaan terhadap daging ayam dan telur kini melejit sehingga harganya meningkat.


b.      Argumentasi
Bertujuan membuktikan kebenaran suatu pendapat/ kesimpulan dengan data/ fakta konsep sebagai alasan/ bukti.
Contoh:
Sebagian anak Indonesia belum dapat menikmati kebahagiaan masa kecilnya. Pernyataan demikian pernah dikemukakan oleh seorang pakar psikologi pendidikan Sukarton (1992) bahwa anakanak kecil di bawah umur 15 tahun sudah banyak yang dilibatkan untuk mencari nafkah oleh orang tuanya. Hal ini dapat dilihat masih banyaknya anak kecil yang mengamen atau mengemis di perempatan jalan atau mengais kotak sampah di TPA, kemudian hasilnya diserahkan kepada orang tuanya untuk menopang kehidupan keluarga. Lebih-lebih sejak negeri kita terjadi krisis moneter, kecenderungan orang tua mempekerjakan anak sebagai penopang ekonomi keluarga semakin terlihat di mana-mana.

c.       Deskripsi
Berisi gambaran mengenai suatu hal atau keadaan sehingga pembaca seolah-olah melihat, merasa atau mendengar hal tersebut.

Contoh:
Gadis itu menatap Doni dengan seksama. Hati Doni semakin gencar memuji gadis yang mempesona di hadapanya. Ya, karena memang gadis didepannya itu sangat cantik. Rambutnya hitam lurus hingga melewati garis pinggang. Matanya bersinar lembut dan begitu dalam, memberikan pijar mengesankan yang misterius. Ditambah kulitnya yang bersih, dagu lancip yang menawan,serta bibir berbelah, dia sungguh tampak sempurna.

d.      Persuasi
Karangan ini bertujuan memengaruhi emosi pembaca agar berbuat sesuatu.
Contoh:
Dalam diri setiap bangsa Indonesia harus tertanam nilai cinta terhadap sesama manusia sebagai cerminan rasa kemanusiaan dan keadilan. Nilai-nilai tersebut di antaranya adalah mengakui dan memperlakukan manusia sesuai dengan harkat dan martabatnya, mengembangkan sikap tenggang rasa dan nilai-nilai kemanusiaan. Sebagai sesama anggota masyarakat, kita harus mengembangkan sikap tolong-menolong dan saling mencintai. Dengan demikian, kehidupan bermasyarakat dipenuhi oleh suasana kemanusian dan saling mencintai.

e.       Narasi
Karangan ini berisi rangkaian peristiwa yang susul-menyusul, sehingga membentuk alur cerita. Karangan jenis ini sebagian besar berdasarkan imajinasi.
Contoh:
Jam istirahat. Roy tengah menulis sesuatu di buku agenda sambil menikmati bekal dari rumah. Sesekali kepalanya menengadah ke langit-langit perpustakaan, mengernyitakan kening,tersenyum dan kembali menulis. Asyik sekali,seakan diruang perpustakaan hanya ada dia.
  
2.      Jenis-jenis paragraf berdasarkan tujuan
a.      Paragraf pembuka
Paragraf pembuka biasanya memiliki sifat ringkas menarik, dan bertugas menyiapkan pikiran pembaca kepada masalah yang akan diuraikan.
Contoh paragraf pembuka :
Pemuli baru saja usai. Sebagian orang, terutama caleg yang sudah pasti jadi, merasa bersyukur karena pemilu berjalan lancer seperti yang diharapkan. Namun, tidak demikian yang dirasakan oleh para caleg yang gagal memperoleh kursi di parlemen. Mereka mengalami stress berat hingga tidak bias tidur dan tidak mau makan.

b.      Paragraf penghubung
Paragraf penghubung berisi inti masalah yang hendak disampaikan kepada pembaca. Secara fisik, paragraf ini lebih panjang dari pada paragraf pembuka. Sifat paragraf-paragraf penghubung bergantung pola dari jenis karangannya. Dalam karangan-karangan yang bersifat deskriptif, naratif, eksposisis, paragraf-paragraf itu harus disusun berdasarkan suatu perkembangan yang logis. Bila uraian itu mengandung pertentangan pendapat, maka beberapa paragraf disiapkan sebagai dasar atau landasan untuk kemudian melangkah kepada paragraf-paragraf yang menekankan pendapat pengarang.

c.       Paragraf penutup
Paragraf penutup biasanya berisi simpulan (untuk argumentasi) atau penegasan kembali (untuk eksposisi) mengenai hal-hal yang dianggap penting.

Contoh paragraf penutup :
Demikian proposal yang kami buat. Semoga usaha kafe yang kami dirikan mendapat ridho dari Tuhan YME serta bermanfaat bagi sesame. Atas segala perhatiannya, kami ucapkan terima kasih.

3.      Jenis paragraf berdasar letak kalimat utama
a.      Paragraf deduktif
Paragraf deduktif ditandai dengan terdapatnya kalimat utama di awal paragraf dan dimulai dengan pernyataan umum yang disusun dengan uraian atau penjelasan khusus.
Contoh paragraf deduktif :
Kemauannya sulit untuk diikuti. Dalam rapat sebelumnya, sudah diputuskan bahwa dana itu harus disimpan dulu. Para peserta sudah menyepakati hal itu. Akan tetapi, hari ini ia memaksa menggunakannya untuk membuka usaha baru. 

b.      Paragraf induktif
Paragraf induktif ditandai dengan terdapatnya kalimat utama di akhir paragraf dan diawali dengan uraian atau penjelasan bersifat khusus dan diakhiri dengan pernyataan umum.
Contoh paragraf induktif :
Semua orang menyadari bahwa bahasa merupakan sarana pengembangan budaya. Tanpa bahasa, sendi-sendi kehidupan akan lemah. Komunikasi tidak lancar. Informasi tersendat-sendat. Memang bahasa merupakan alat komunikasi yang penting, efektif dan efisien.

c.       Paragraf campuran
Paragraf campuran ditandai dengan terdapatnya kalimat utama di awal dan akhir paragraph. Kalimat utama yang terletak diakhir merupakan kalimat yang bersifat penegasan kembali.
Contoh paragraf campuran :
Dalam kehidupan sehari-hari, manusia tidak dapat dilepaskan dari komunikasi. Kegiatan apa pun yang dilakukan manusia pasti menggunakan sarana komunikasi, baik sarana komunikasi yang sederhana maupun yang modern. Kebudayaan dan peradaban manusia tidak akan bias maju seperti sekarang ini tanpa adanya sarana komunikasi.

D.    Unsur-unsur paragraf
Paragraf adalah satu kesatuan ekspresi yang terdiri atas seperangkat kalimat yang dipergunakan oleh pengarang sebagai alat untuk menyatakan dan menyampaikan jalan pikirannya kepada para pembaca.Supaya pikiran tersebut dapat diterima oleh pembaca,alinea harus tersusun secara logis-sistematis.Alat bantu untuk menciptakan susunan logis-sistematis itu adalah unsur-unsur penyusun alinea,seperti transisi (transition),kalimat topik (topic sentence),kalimat pengembang (development sentence),dan kalimat penegas.
Kalimat-kalimat yang membangun paragraf pada umumnya dapat diklasifikasikan atas dua macam, yaitu (1) kalimat topik atau kalimat utama, dan (2) kalimat penjelas atau kalimat pendukung.
Kalimat topik atau kalimat utama, biasanya ditempatkan secara jelas sebagai kalimat awal suatu paragraf. Kalimat utama ini kemudian dikembangkan dengan sejumlahkalimat penjelas sehingga ide atau gagasan yang terkandung kalam kalimat utama itu menjadi semakin jelas.

Ciri kalimat topik adalah:
1.      Mengandung permasalahan yang potensial untuk dirinci atau diuraikan lebih lanjut
2.      Merupakan kalimat lengkap yang dapat berdiri sendiri
3.      Mempunyai arti yang cukup jelas tanpa harus dihubungkan dengan kalimat lain
4.      Dapat dibentuk tanpa bantuan kata sambung dan frasa transisi.

Ciri kalimat penjelas adalah:
1.      (Dari segi arti) sering merupakan kalimat yang tidak dapat berdiri sendiri.
2.      Arti kalimat kadang-kadang baru jelas setelah dihubungkan dengan  kalimat lain dalam paragraf.
3.      Pembentukannya sering memerlukan bantuan kata sambung dan frasa transisi.
4.      Isinya berupa rincian, keterangan, contoh, dan data lain yang mendukung kalimat topik.

Kalimat-kalimat penjelas atau kalimat-kalimat bawahan itu menjelaskan kalimat topikdengan empat cara, yaitu:
1.      Dengan ulangan, yaitu mengulang balik pikiran utama. Pengulangannya biasanya menggunakan kata-kata lain yang bersamaan maknanya (sinonimnya).
2.      Dengan pembedaan, yaitu dengan menunjukkan maksud yang dikandung oleh pikiran utama dan menyatakan apa yang tidak terkandung oleh pikiran utama.
3.      Dengan contoh, yaitu dengan memberikan contoh-contoh mengenai apa yang dinyatakan dalam kalimat topik.
4.      Dengan pembenaran, yaitu dengan menambahkan alasan-alasan untuk mendukung ide pokok. Biasanya kalimat pembenaran itu diawali/disisipi kata “karena, sebab”.


E.     Fungsi Paragraf
Berikut ini merupakan fungsi paragraf:
1.      Mengekspresikan gagasan tertulis dengan memberi bentuk suatu pikiran dan perasaan ke dalam serangkaian kalimat yang tersusun secara logis, dalam suatu kesatuan.
2.      Menandai peralihan (pergantian) gagasan baru bagi karangan yang terdiri beberapa paragraf, ganti paragraf berarti ganti pikiran.
3.      Memudahkan pengorganisasian gagasan bagi penulis, dan memudahkan pemahaman bagi pembacanya
4.      Memudahkan pengembangan topik karangan ke dalam satuan-satuan unit pikiran yang lebih kecil.
5.      Memudahkan pengendalian variabel terutama karangan yang terdiri atas beberapa variabel.

                                                                            BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Paragraf juga didefinisikan sebagai kumpulan suatu kesatuan pikiran yang lebih tinggi dan lebih luas daripada kalimat. Paragraf  merupakan penuangan ide dalam bentuk kumpulan kalimat yang saling berhubungan antara kalimat yang satu dengan yang lainnya dan hanya memiliki satu topik atau tema.
Paragraf memiliki tiga macam yaitu, paragraf pembuka, paragraf  penghubung dan paragraf penutup.
Syarat pembentukan paragraf adalah kesatuan, koherensi dan perkembangan paragraf.
Berdasarkan penempatan ide pokok pada paragraf ,paragraf dibagi menjadi 4 jenis yaitu deduktif, induktif, campuran, dan deskriptif. Untuk menyusun paragraf secara logis-sistematis diperlukan alat bantu berupa unsur-unsur penyusun paragraf ,seperti transisi (transition),kalimat topik (topic sentence),kalimat pengembang (development sentence),dan kalimat penegas (punch-line) keempat unsur penyusunan paragraf tersebut,terkadang muncul secara bersamaan,terkadang pula hanya sebagian yang muncul dalam sebuah paragraf.

B.     Saran
Kepada pembaca, kami sadar bahwa masih banyak kekurangan yang kami miliki, baik dari segi tulisan maupun bahasa yang kami sajikan. Oleh karena itu  kami berpesan kepada pembaca,ambilah sesuatu yang psitif dari sebuah coretan yang  kami buat,dan semoga makalah ini bisa bermanfaat bagi kami mapun  pembaca.dan menjadi  wawasan kita dalam memahami bahasa kita sendiri dan sebagai kata,marilah terus berusaha untuk menggapai sebuah cita-cita yang luhur.



                                                          DAFTAR PUSTAKA
 Budiharso, Teguh. 2009.  Panduan Lengkap Penulisan Karya Ilmiah. Angkasa.

Depdiknas. 2002. Kamus Besar Bahsa Indonesia Edisi Ketiga. Jakarta Depdiknasa.

 Dini, Dahlia dan Sitorus. 2004. Bimbingan Pemantapan Bahasa Indonesia. Bandung : CV Yrama Widya.

Herman J. Waluyo. 2001. Teori Drama dan Pengajaran. Yogyakarta : Hanindita.  

 Indriaty, Etty2008. Menulis Karya Ilmiah . Gramedia Pustaka Utama.

Muda, Ahmad A.K. 2008. Kamus Saku Bahasa Indonesia Idx Ed.terbaru. Tititk Terang

Rahardi, Kunjana. 2010. Teknik-teknik Pengembangan Paragraf Karya Tulis

Wahyudi Yono, Contoh Makalah Bahasa Indonesia Alenia Paragraf   Wahyu Diyono.html. 25 Maret 2014

Wahyu R.N, Tri. 2006. Bahasa Indonesia. Jakarta. Universitas Gunadarma

 Waluyo, Herman J. 1995. Teori dan Apresiasi Puisi. Jakarta : PT Erlangga

Wiyanto, Asul. 2001. Diskusi. Jakarta : PT Grasindo.

 Wiyanto, Asul. 2001. Terampil Pidato. Jakarta : PT Grasindo.

Wiyanto, Asul. 2006. Terampil Menulis Paragraf. Grasindo.

Wuryanto, R. 2010.  Pedoman Lengkap Eyd ( Ejaan Yang Disempurnakan ). Paung Bona Jaya.