Cerita rakyat adalah cerita dari
zaman dahulu yang hidup di kalangan rakyat dan diwariskan secara lisan adapun cerita yang
kali ini akan saya tulis yaitu “I Besse
Timo”. I Besse Timo adalah bagian dari salah satu kerajaan kecil yang ada
di kabupaten Soppeng, yaitu kerajaan Umpungeng. Sebagaimana yang tercantum dalam
sejarah kerajaan Soppeng bahwa “pada masa
perselisihan antara Datu Soppeng Riaja dengan Datu Soppeng Rilau, Arung Umpungeng
datang menghadap Datu Soppeng Riaja” . ini membuktikan bahwa Kerajaan Umpungeng
betul adanya, namun sedikit dari kita menyadari akan keberadaannya akibat
kurangnya literatur yang mempublikasikan sejarah tersebut.
Melalui tulisan ini saya mencoba
mendeskripsikan cerita rakyat yang sering diceritakan oleh kakek saya dan
sebelumnya telah saya konfirmasi ulang kepada beberapa petuah yang masih ada,
demi untuk tetap mempertahankan keutuhan struktur cerita. Namun, tak bisa dipungkiri
adanya bumbu-bumbu yang menjadi cerita tambahan.
I Besse Timo
Pada zaman dahulu, di sebelah utara
Kabupaten Bone hidup seorang wali yang dikenal dengan To Manurung,e (orang yang
dipercaya turun dari kayangan/ langit). Konon, daerah tersebut kian hari
semakin ramai dikunjungi oleh orang-orang dari berbagai penjuru. Keramain itu
pada akhirnya menjadi asal muasal terbentuknya sebuah kerajaan kecil yang
bernama Kerajaan Tete yang dipimpin oleh Tomanurunge dengan gelar Arung Tete.
Arung Tete memiliki tujuh orang anak,
salah seorang diantaranya bernama I Besse Timo. I Besse Timo adalah putri
sulung dengan paras yang cantik rupawan serta akhlak yang baik. Dia sangat
patuh dan taat kepada Orang tuanya, hal itulah yang membuat Arung Tete
memberikan kasih sayang istimewa pada putri sulungnya tersebut.
Gadis cantik rupawan yang tumbuh
seiring berlalunya waktu, kian menjadi dewasa layaknya gadis-gadis pada
umumnya. Namun suatu kejadian aneh tiba-tiba menimpah putri sulung Arung Tete.
Guntur dengan kekuatan yang amat dahsyat, mengakibatkan si Putri Sulung orgasme
dalam kesendirian, puncak kenikmatan yang dirasakannya layaknya melakukan
hubungan intim seperti yang dilakukan suami-istri. Akibat dari kejadian itu, I
Besse Timo dinyatakan hamil tanpa suami.
Arung Tete sangat terkejut dan heran
melihat keadaan putrinya, mengingat dalam keseharian putri sulungnya itu amat
bersahaja dan sangat menjaga diri utamanya dari pergaulan yang terlarang. Untuk
menjawab rasa penasaran di dalam benaknya, Arung tete kemudian menanyakan
kepada putrinya perihal yang sebenarnya.
“Apa
yang terjadi Putriku?”
Si Putri
Sulung cantik nan rupawan sangat mengenal karakter ayahnya yang bijaksana dan
penuh perhatian terhadap putrinya. Oleh karena itu, tanpa ragu dia menceritakan semuanya, tentang
apa yang dia alami saat guntur berkekuatan dahsyat itu terjadi.
Sebuah musibah yang pada akhirnya akan menjadi suatu
bencana jika tidak dicarikan jalan keluar. Hal itulah yang mengharuskan Arung
Tete bertindak tegas untuk solusi terbaik buat putri kesayangannya. Batinnya
bergejolak, berat namun tak ada cara lain, I Besse Timo si putri sulung harus
menemukan sendiri siapa ayah dari janin dalam rahimnya.
To Manurunge Tellang Kere Ri tete, kemudian mengantar putrinya
menuju sebuah sungai yang dikenal dengan nama Sungai Tete. Sungai itu menjadi awal langkah I Besse Timo untuk menentukan nasib dirinya dan anak yang
ada dalam kaddungannya. Arung Tete lalu mengamanahkan sebuah petunjuk berupa
satu butir telur yang telah dierami induknya yang dihanyutkan di sungai dan segenggam padi
sebagai bekalnya.
“Putriku berjalanlah
menyusuri sungai ini dengan mengikuti arah telur di atas angke-angke (rautan bambu yang dibentuk menyerupai piring) itu”
I Besse Timo tanpa
mempertanyakan satu hal pun kepada Ayahnya
bergegas berjalan mengikuti arah telur yang tetap terapung meski diterjang
derasnya arus air sungai.
Tiba di suatu kaki gunung tepatnya Sungai Seddo, telur
ajaib itu berputar lalu diam tidak bergerak, Si Putri Cantik pun ikut
beristirahat. Ia lalu merenungi nasibnya yang hamil tanpa dijamah oleh lelaki
manapun sambil menatap puncak gunung yang berada tepat di hadapannya. Sebagai
simbol atas keadaan dirinya yang masih gadis, gunung yang dipandanginya kemudian diberikan nama Bulu Anadara (Gunung Gadis).
Telur ajaib lalu bergerak kembali mengikuti arus air
hingga tiba di sebuah pertemuan arus sungai antara Sungai Tete dengan Sungai
Langkemme. Anehnya, telur yang tadinya mengikuti arus air tiba-tiba bergerak
melawan arah, berputar ke arah asal Sungai Langkemme. Akibat adanya kejadian
alam yang tidak logis di pembelokkan sungai tersebut maka diberilah nama Salo Palekoreng (Belokan Sungai). I
Besse Timo masih dengan sabar tetap mengikuti telur yang sedang melawan arus.
Tiba pada perbukitan, telur ajaib lalu berbelok dan menggelinding ke atas
bukit. Perubahan pergerakan dari sungai ke darat kemudian menyisahkan sebuah
nama pada sungai terakhir yaitu Salo Lainna
(Sungai Lain). Di atas bukit, telur pemandu tersebut kemudian diam, Si Putri Sulung
pun paham.
“Di sinilah tujuan akhir
perjalanannku”
Menyadari akan hal tersebut, I Besse Timo mulai bekerja
membuat gubuk untuk ia tempati. Padi bekal dari sang ayah mulai dia tanam.
Hidup sebatang kara di tengah hutan, ia lewati dengan mencari nafkah untuk
bertahan hidup. ketika padi yang ia tanam mulai dipanen, keterbatasan
pengetahuan pun di zaman itu mengakibatkan kekeliruan. Si Putri Cantik justru
mengkomsumsi kulit-kulit dari padi dan membuang berasnya. Hingga memakan ampas
padi menjadi kebiasaan bagi Si Putri I Besse Timo. Sebagai peninggalan sejarah
maka tempat atau bukit tersebut kemudia dinamai Coppo Kande Awang ( Puncak Bukit Pemakan Ampas Padi).
Hari-hari berlalu, kesendirian I Besse Timo pun berakhir.
Sembilan bulan lamanya, akhirnya si putri lahir bersamaan dengan menetasnya telur
yang memandu perjalannya menjadi seekor ayam betina. Buah jatuh tdk jauh dari
pohonnya. pepatah itulah yang tepat untuk menggambarkan gadis kecil yang
kemudian tumbuh dewasa dengan paras cantik , ayu dan jelita menyerupai ibunya.
Gadis itu bernama I Besse Kadiu. Mereka berdua hidup tentram di tengah hutan
tanpa diketahui oleh siapa pun tentang keberadaannya.
Tidak jauh dari bukit Coppo Kande Awang (tempat bermukim
kedua wanita cantik itu) terdapat kerajaan kecil yang dipimpin oleh Petta
Bulu Matanre. Kerajaan tersebut bernama kerajaan Bulu Matanre. Sang raja
memiliki beberapa orang anak, slah satunya bernama Baso Paranrengi. Baso Parenrangi
pernah mengalami hal yang serupa dengan
I Besse Timo, saat guntur berkekuatan dahsyat dia mengalami perasaan
intim layaknya berhubungan suami istri. Namun kejadian tersebut diabaikan karena
dianggap hal yang biasa.
Baso Paranrengi memiliki hobbi berburu rusa. Suatu hari
dia berangkat ke hutan bersama pengawalnya
Lasalatu dan anjing pemburunya Si Hitam dan Si Putih. Ketika mereka sedang
istirahat di atas suatu bukit, la Baso Paranrengi memperhatikan kedua anjing
pemburunya. Ia lalu melihat anjing-anjingnya kekenyangan dan pada pipi si Hitam
menempel beras yang menandakan adanya seseorang yang bermukim di sekitar tempat
itu. Melihat keanehan itu, putra Petta Bulu Matanre mengintruksikan kepada sang
pengawal pribadi untuk berdiri dan mengamati keadaan sekitar
“Apakah di sekitar sini ada
orang yang bermukim?
Sang pengawal membalas bahwa
dari pantauannya, tepat di bukit sebelah ada asap yang membumbung menjulang
tinggi ke langit.
Mendengar ucapan sang
pengawal , Baso Paranrengi kemudian
bergegas dan meninggalkan bukit tersebut. Sebagi bukti sejarah bahwa tempat itu
menjadi tempat matoli “berdiri” Lasalatun untuk memantau maka dinamailah Bulu Latoli
(Gunung Berdiri)
Tatkala mereka sampai di bukit tempat asap berasal, mereka lalu berjalan mendekati gubuk kecil untuk memastikan siapa pemiliknya. Muncullah
dua gadis cantik jelita beriringan menghampiri pintu gubuk kecilnya, melangkah
keluar untuk bersantai di halaman gubuknya. Baso Paranrengi yang seakan
menyaksikan dua bidadari dari langit, terhipnotis oleh keanggagungan kedua
gadis tersebut hingga jatuh tak sadarkan diri. Pengawal yang kaget melihat
tuanya pertama kali pingsan tak mampu berbuat apa-apa kecuali meminta bantuan
kepada kedua gadis yang belum dikenalnya. Dengan segera I Besse Timo mengambil
air gayung lalu merendam ujung rambutnya kemudian memercikkan ke arah muka Baso
Parenrengi. Dari peristiwa inilah sehingga turun temurung orang bugis mengenal
“pangeppi weluwa”. Sebuah pengobatan
tradisional untuk orang yang pingsan dengan tekhnik memercikkan air dari ujung
rambut.
Setelah sadar dari pingsan, putra Petta Bulu Matanre
meniatkan dalam hati untuk meminang wanita cantik yang telah mengobatinya. Dia
telah jatuh cinta pada pandangan pertama. Cintanya bahkan merubah tingkah
lakukanya, sampai menimbulkan kekhwatiran bagi sang ayah Petta Bulu Matanre.
Melihat anaknya bertindak aneh yang
mengurung diri dalam kamar dan membungkus sekujur tubuhnya dengan sarung. Sang
Raja Bulu Matanre pun menanyakan kepada Lasalatu perihal kejadian yang
mengakibatkan putranya berubah. Lasalatu lalu menjawab
“Tuanku bertemu dengan dua
wanita cantik di sekitar hutan tempat berburu”
Petta Bulu Matanre segera
memahami perasaan putranya dan mengatakan
“otono
baso ulao maddutangekko baja” (bangunlah, besok saya
akan datang melamar wanita yang telah menawan hatimu)
Keesokan harinya Petta Bulu Matanre mendatangi kedua
wanita cantik yang telah membuat putranya jatuh tak sadar diri dengan maksud
melamar salah satu diantaranya. Namun, I Besse Timo pada saat itu tidak
langsung menerima lamaran tersebut karena dia tidak mempunyai wali. Ia kemudia
mengisyaratkan kepada Petta Bulu Matanre untuk terlebih dahulu menemui seorang
wali di sebuah gunung sebelah selatan bukit Bittawang.
Mendengar persyaratan itu dan mempertimbangkan keadaan
sang putra, Petta Bulu Matanre bergegas untuk mendatangi gunung yang dimaksud
oleh I Besse Timo. Ia lalu mencari dari gunung ke gunung, namun wali dari
wanita dambaan putranya tak ditemukan. Hingga akhirnya pemimpin dari kerajaan
Bulu Matanre itu merasa lelah “poso” dan hampir berputus asa. Dalam keadaan
lelah, tiba-tiba muncul seorang yang mengaku sebagai wali dari I Besse Timo.
Beliau adalah jelmaan dari Tomanurunge Tellang Ri tete yang memang senang
bertapa di gunung tersebut. Gunung yang dinamai Laposo (kelelahan)akibat
keadaan petta bulu matanre yang kelelahan pada waktu itu. Ayah dari Baso
Paranrengi pun segera menyampaikan maksud dan tujuannya dan Wali dari I Besse
Timo akhirnya bersedia datang untuk menjadi wali nikah.
Pada hari yang telah disepakati oleh kedua pihak,
keluarga dari kerajaan Bulu Matanre kembali pendatangi gubuk kecil putri dari
kerajaan Tete. Di dalam gubuk telah hadir Arung Tete sebagai wali mempelai
wanita bersama kedua wanita cantik jelita yang salah satunya adalah calon istri
mempelai laki-laki. Pembicaraan dalam gubuk dimulai dari mempertanyakan kepada
mempelai laki-laki untuk memilih salah satu dari dua wanita cantik jelita yang
tampak layaknya saudara kembar itu, tanpa mengetahui tentang status keduanya.
Pilihan pada akhirnya jatuh kepada I Besse Timo yang berstatus ibu dari wanita
cantik yang satunya I Besse Kadiu. Mereka pun dinikahkan lalu hidup rukun dan
damai.
Dengan status suami-istri mereka mulai menceritakan
tentang kejadian aneh yang perna dialamai keduanya, dengan bentuk yang serupa
dan dalam waktu yang bersamaan. Dari situlah keduanya mulai menyadari bahwa ayah
dari I Besse Kadiu tidak lain adalah
Baso Paranrengi sendiri.
Beberapa tahun silih berganti, mereka telah dikarunia
beberapa anak lagi. Pada saat yang sama ayam yang menuntun perjalanan I Besse
pun berkembang biak di tempat itu. Namun anehnya setiap pagi ayam-ayam itu
bergi ke puncak bukit yang berseblahan dengan dengan bukit yang mereka tempati.
Melihat kebiasaan ayam-ayamnya yang tidak lazim, maka I Besse Timo ditemani
suaminya mengikuti jejak ayam-ayam itu. Setelah sampai di puncak bukit
tersebut, mereka mendapati ayam-ayamnya sedang asyik bermandikan tanah
membentuk gundukan. Aktivitas membuat gundukan tanah dalam bahasa bugis disebut
“mabbumpung”. Dari sinilah nama
Umpungeng berawal. Tempat yang ditempati ayam membuat gundukan itu dinamakan “Umpungen”
ketertarikan keluarga Baso Parenrengi pada tempat
tersebut, mengakibatkan adanya perencanan untuk pindah dan menetap di tempat tersebut.
Mereka suami-istri lalu bertapa/bertahannus meminta kepada Dewa Pattappa( Tuhan
Pencipta) agar diterima dengan baik di tempat itu. Permintaaan mereka pun
dikabulkan, mereka lalu dihadiai sebuah rumah yang material bangunannya kokoh
namun terbuat dari kayu-kayu yang saat ini kita kenal tumbuhan jangka pendek
seperti kayu cabai dan lain-lain berdiri tepat di atas bukit itu sekitar 60
meter sebelah barat umpungeng. Rumah
inilah yang dikenal dengan nama Bola manurunge ri Umpungeng. Keluarga
parangrengi akhirnya pindah ke tempat barunya yang kemudian beranak cucu hingga
membentuk perkampungan yang dikenal kampung Umpungeng.
Setelah berkembang dari waktu kewaktu, masyarakat Umpungeng
semakin padat sementara lokasi tempat pemukiman di atas bukit semakin sempit
maka sebagian diantaranya memilih merantau dan sebagian kecil tetap bermukin di
situ dan membentuk kerajaan kecil yang bernama kerajaan Umpungen yang dipimpin
oleh Nenek Dongkong yang juga dikenal dengan (Arung Umpungeng)
Kepemimpinannya semasa itu terkenal bersahaja dan
memiliki kemampuan diplomasi yang hebat, sehingga Umpungeng menjadi tuan rumah/
tempat pertemuan para raja pada masa itu. Lokasi tempat musyawarah para
pimpinan tersebut tepat di tempat ayam-ayam
ma,bumbung yang kini dikenal Garugae
. tempat ini merupakan salah satu situs mengalitikum yang berbentuk lingakaran
dari deretan batu-batu gunung dan di tengahnya terdapat batu pertengahan (posi
tana). Konon setiap batu merupakan tempat duduk perwakilan dari
kerajaan-kerajaan. Tempat inilah kemudia menjadi simbol pemersatu yang sering
dikunjungi orang dari berbagai penjuru.
Catatan : Ketika ada
pengetahuan lain baik berupa saran, komentar maupun kritikan mohon disampaikan,
untuk lebih meningkatkan kualitas dari tulisan ini.
Penulis Fitria
Ningsih Latief
Tidak ada komentar:
Posting Komentar